Lemahnya Pengawasan, Sejumlah Siswa di Juluk Saronggi Keracunan Setelah Makan MBG Dari SPPG Syita Ananta

Avatar photo

- Redaksi

Rabu, 15 April 2026 - 07:37

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP, Suara Madura News — Persoalan kualitas menu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, kini memasuki fase yang jauh lebih serius dan mengkhawatirkan. Dugaan makanan basi dan berbau yang didistribusikan oleh SPPG Syita Ananta Talang, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, tidak lagi berhenti pada keluhan lisan, tetapi telah berujung pada dampak kesehatan nyata yang dialami siswa.

Kasus ini tidak hanya memicu kegelisahan, tetapi juga kemarahan terbuka dari para wali murid. Mereka menilai bahwa persoalan kualitas makanan dalam program MBG bukan kejadian insidental, melainkan indikasi masalah yang sudah berlangsung berulang kali tanpa adanya perbaikan yang signifikan.

Sejumlah orang tua bahkan menilai ada unsur pembiaran dalam distribusi makanan yang diduga tidak layak konsumsi. Situasi ini dinilai semakin memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan program MBG di tingkat lapangan.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fajar, salah satu wali murid SDN Juluk II, secara tegas membenarkan adanya kejadian siswa yang mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi menu MBG.

“Memang benar kemarin ada siswa keracunan di SDN Juluk II. Kenapa saya tahu, karena sekolah itu adalah sekolah anak saya,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut bukan yang pertama, melainkan sudah terjadi berulang kali dan terus berulang tanpa solusi nyata.

“Ini bukan kejadian yang pertama. Ini sudah yang kesekian kalinya. Pernah ada menu yang tidak layak konsumsi, ada ulatnya dan bahkan busuk. Saya sebagai orang tua tidak terima anak kami diberikan makanan yang mengancam kesehatannya,” tegasnya.

Menurutnya, persoalan ini seharusnya tidak terjadi jika pengawasan dan pengelolaan program berjalan dengan baik.

“Anggaran itu kan sudah pasti untuk siswa. Jadi jangan dikurangi. Imbasnya ya seperti ini, menu MBG berbau dan busuk dipaksakan didistribusikan ke siswa,” ujarnya dengan nada keras.

Ia juga mendesak agar pihak berwenang tidak tinggal diam terhadap kondisi ini.

Baca Juga :  Saat IWO Audiensi, Satgas MBG Sumenep Berjanji Akan Sidak SPPG Bermasalah

“Saya berharap ada tindakan tegas dari Satgas MBG Kabupaten Sumenep dan juga Badan Gizi Nasional RI. Anak kami bukan bak sampah yang gampang disuruh makan menu yang tidak layak untuk kesehatannya,” tegasnya.

Nada kemarahan serupa juga disampaikan wali murid lainnya yang menilai persoalan ini sudah melampaui batas toleransi.

“Ini sudah berulang, tapi seperti tidak ada perbaikan. Jangan paksa anak kami makan yang tidak layak,” ujarnya.

Fakta di lapangan semakin memperkuat dugaan tersebut setelah pihak kecamatan bersama Forkopimcam melakukan klarifikasi langsung ke sekolah dan dapur MBG.

Hasilnya, baik pihak sekolah maupun SPPG mengakui adanya permasalahan pada kualitas makanan yang didistribusikan.

Camat Saronggi, Arman Mustofa, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan langsung ke lokasi.

“Iya kami melakukan kunjungan ke SDN Juluk II dan SPPG Syita Ananta Talang. Hasil klarifikasi ke pihak sekolah di sana mengakui bahwa menu MBG yang didistribusikan sebagian banyak kondisinya basi dan berbau,” jelasnya.

Ia juga membenarkan adanya siswa yang mengalami gangguan kesehatan hingga harus mendapatkan penanganan medis.

“Ada tiga siswa mengalami sakit perut dibawa ke Puskesmas Saronggi oleh orang tuanya,” ujarnya.

Ia mengatakan, tak hanya dari pihak sekolah, pengakuan juga datang dari pihak SPPG saat dilakukan klarifikasi langsung.

“Kami Forkopimcam juga melakukan kunjungan ke SPPG Talang, pada saat itu ada pengawas SPPG. Hasil klarifikasi pihak sana juga mengaku bahwasannya ada menu bau dan ada siswa dilarikan ke Puskesmas,” tuturnya.

Atas temuan tersebut, pihak kecamatan memastikan bahwa laporan resmi telah disampaikan ke pemerintah daerah untuk segera ditindaklanjuti.

“Hasil dari semua klarifikasi saat kunjungan ke SDN Juluk II dan SPPG Talang, kami laporkan ke Bapak Bupati, tembusan ke Pak Sekda, Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan,” paparnya.

Ia berharap laporan tersebut tidak berhenti sebagai formalitas semata. “Semoga hal ini ada tindakan tegas dari pemerintah daerah untuk menyikapinya,” tambahnya.

Baca Juga :  RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Gelar Penyuluhan Kesehatan untuk Siswa SLB sebagai Bentuk Kepedulian terhadap Difabel

Di tengah situasi yang semakin serius, upaya konfirmasi kepada pihak SDN Juluk II justru menemui kendala. Transparansi yang diharapkan publik belum sepenuhnya terpenuhi.

Saat tim mendatangi sekolah untuk menemui Kepala Sekolah di ruang kerjanya, yang bersangkutan tidak berada di tempat. Ketidakhadiran tersebut disampaikan oleh sejumlah guru.

“Bapak tidak ada di kantor,” ujar salah satu guru singkat.

Saat ditanyakan mengenai penanggung jawab program MBG di sekolah tersebut, jawaban yang diberikan juga tidak memberikan kejelasan.

“Yang bertanggung jawab MBG lagi keluar, mengajar di luar,” kata salah satu guru.

Kondisi ini semakin menambah tanda tanya besar terkait sistem pengawasan dan koordinasi program MBG di tingkat sekolah.

Kasus ini menjadi alarm keras bahwa persoalan MBG di Sumenep tidak lagi bisa dianggap sebagai masalah biasa. Dari sekadar keluhan soal bau dan kualitas makanan, kini telah berkembang menjadi persoalan serius yang menyangkut kesehatan siswa.

Indikasi makanan basi, berbau, bahkan disebut mengandung ulat, menunjukkan adanya kegagalan dalam sistem pengawasan, pengelolaan, dan distribusi.

Minimnya respons dari pihak sekolah serta tidak adanya pihak yang siap memberikan klarifikasi langsung semakin memperkuat kesan lemahnya tanggung jawab di lapangan.

Kini, sorotan tertuju pada pemerintah daerah dan penyelenggara program, termasuk SPPG Syita Ananta Talang. Fakta sudah muncul, pengakuan sudah ada, dan korban sudah terjadi. Pertanyaannya, apakah akan ada tindakan tegas?, Atau persoalan ini akan kembali berulang tanpa perubahan?.

Dalam situasi ini, satu hal menjadi garis tegas:
keselamatan dan kesehatan siswa tidak boleh dikompromikan dalam bentuk apa pun.

Dalam situasi krisis yang menyangkut kesehatan siswa, publik menilai seharusnya pihak sekolah bersikap terbuka dan responsif, bukan justru sulit ditemui.

Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada Kepala Sekolah SDN Juluk II dan penanggung jawab MBG masih terus dilakukan.

Penulis : ZR

Editor : EM

Berita Terkait

Aksi Penganiayaan Berdarah di Guluk-Guluk Terungkap, Pelaku Gagal Kabur
Kapolsek Bluto Siapkan Hadiah Rp2 Juta bagi Warga yang Bantu Tangkap Pelaku Pencurian
Diduga Curi Lima Ekor Ayam, Dua Warga Pamolokan Sumenep Diamankan Polisi Usai Ditangkap Massa
Pelaku Bobol Toko di Bancamara Dungkek Ditangkap, Polisi Amankan Puluhan Slop Rokok dan Sejumlah Barang Bukti
Ketua PPR Sumenep Ajak Industri Rokok Serap Tembakau Lokal, Petani Diminta Fokus Jaga Mutu Panen
Polisi Sahabat Anak, Satlantas Polresta Sumenep Edukasi Keselamatan Berlalu Lintas di SDN Kolor 2
Diduga Jadi Korban Penganiayaan, Warga Camplong Laporkan Hasanah ke Polres Sampang, Libas88 Desak Penanganan Secara Profesional
Curanmor Gagal Beraksi, Dua Warga Sukajeruk Dibekuk Unit Reskrim Polsek Masalembu

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:26

Aksi Penganiayaan Berdarah di Guluk-Guluk Terungkap, Pelaku Gagal Kabur

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:49

Kapolsek Bluto Siapkan Hadiah Rp2 Juta bagi Warga yang Bantu Tangkap Pelaku Pencurian

Senin, 27 Juli 2026 - 20:25

Diduga Curi Lima Ekor Ayam, Dua Warga Pamolokan Sumenep Diamankan Polisi Usai Ditangkap Massa

Senin, 27 Juli 2026 - 20:00

Pelaku Bobol Toko di Bancamara Dungkek Ditangkap, Polisi Amankan Puluhan Slop Rokok dan Sejumlah Barang Bukti

Senin, 27 Juli 2026 - 12:13

Ketua PPR Sumenep Ajak Industri Rokok Serap Tembakau Lokal, Petani Diminta Fokus Jaga Mutu Panen

Berita Terbaru