SUMENEP, Suara Madura News – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi pemenuhan gizi anak sekolah justru memicu kemarahan publik di Lenteng Barat, Kecamatan Lenteng. Sebuah video keluhan wali murid viral di media sosial setelah memperlihatkan kondisi makanan MBG yang diduga busuk dan tidak layak konsumsi.
Dalam video yang beredar di TikTok pada Kamis (5/3/2026), wali murid tersebut dengan nada geram memperlihatkan paket makanan yang diterima anaknya. Ia menyebut tempe yang dibagikan berbau menyengat, sementara ayam yang menjadi lauk utama diduga sudah rusak.
“MBG se Lenteng Bara’ ma’ gisru ya? Ma’ sampe’ bucco’ ya? Tempena bucco’ baceng. Ajema aga’ eolaanna riya, Arya tepote. Baceng ajema. Se naragi Lenteng Bara’, khususnya Gunung Malang Satu, Lenteng Barat Kecamatan Lenteng. Se naragi ka sakolaan As-Syafi’iah, MBG na bucco’… bucco’… bucco’,” keluhnya dalam video tersebut, Kamis (5/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam terjemahan bebas, ia mempertanyakan kekacauan distribusi MBG di Lenteng Barat. Ia menyebut tempe dalam paket makanan sudah busuk dan ayamnya mengeluarkan bau tidak sedap, bahkan terlihat bercak putih yang mencurigakan.
“MBG di Lenteng Barat kok kacau ya? Kok sampai busuk ya? Tempenya busuk dan bau. Ini ayamnya hampir keluar ulat, tampaknya ada putih-putihnya, bau ayamnya. Yang dibagikan ke sekolah As-Syafi’iah di Gunung Malang Satu. MBG-nya busuk… busuk… busuk,” ujarnya.
Menu MBG tersebut diketahui didistribusikan oleh SPPG Lenteng Barat yang berada di bawah naungan Yayasan Darul Arqom.
Namun persoalan ini memunculkan pertanyaan yang jauh lebih serius. Dalam standar operasional dapur MBG, setiap makanan seharusnya melalui proses pengawasan dan pengecekan sebelum didistribusikan ke sekolah.
Biasanya, menu yang akan dibagikan telah diperiksa oleh tim dapur yang terdiri dari ahli gizi, food handler, hingga chef yang bertanggung jawab atas kualitas dan keamanan makanan.
Pertanyaannya kini menjadi sangat mendasar: bagaimana mungkin makanan yang diduga sudah busuk bisa lolos dari proses pengawasan tersebut dan sampai ke tangan siswa?
Jika memang prosedur pengecekan dilakukan secara ketat, seharusnya makanan dengan kondisi berbau, rusak, atau tidak layak konsumsi tidak pernah keluar dari dapur produksi.
Karena itu, kasus ini tidak sekadar soal keluhan wali murid yang viral. Ini menyentuh integritas sistem pengawasan dalam program MBG yang menyangkut kesehatan anak-anak.
Program MBG yang menggunakan anggaran besar seharusnya menjamin makanan yang aman, segar, dan layak konsumsi. Ketika justru muncul dugaan makanan busuk beredar di sekolah, publik berhak mempertanyakan kinerja pengawasan dan tanggung jawab pihak pelaksana.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak SPPG Lenteng Barat maupun Yayasan Darul Arqom terkait keluhan yang viral tersebut.
Yang pasti, bagi para orang tua siswa, persoalannya sederhana namun serius: anak-anak mereka seharusnya menerima makanan bergizi, bukan makanan yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka.
Penulis : ZR
Editor : EM









